Al-Qur'an & Budaya Bugis; dalam Tafsir Al-Munir Karya AG. H. Daud Islamil (Adaptasi, INtegrasi dan Negosiasi)
Penelitian ini mengkaji bagaimana Anregurutta (AG) H. Daud Ismail melakukan pribumisasi Al-Qur'an melalui karyanya, Tafsir Al-Munir (salah satu tafsir Al-Qur'an lengkap 30 juz dalam bahasa Bugis). Fokus utamanya adalah melihat proses adaptasi, integrasi, dan negosiasi antara teks wahyu dengan realitas budaya masyarakat Bugis.
Poin-Poin Utama:
Adaptasi Linguistik dan Budaya:
Penulis (Idil Hamzah) menganalisis bagaimana AG. H. Daud Ismail menggunakan istilah-istilah lokal Bugis untuk menjelaskan konsep-konsep universal dalam Al-Qur'an agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal. Penggunaan bahasa Bugis bukan sekadar terjemahan, melainkan upaya membawa pesan langit ke dalam ruang lingkup pemikiran lokal.
Integrasi Nilai:
Penelitian ini menemukan adanya penyatuan antara nilai-nilai Islam dengan falsafah hidup orang Bugis, seperti konsep Pangngadereng (adat istiadat), Siri’ na Pesse (harga diri dan empati), serta Lempu (kejujuran). Nilai-nilai ini diintegrasikan ke dalam penjelasan ayat-ayat yang berkaitan dengan etika (akhlak) dan sosial.
Negosiasi Identitas:
Terjadi proses negosiasi di mana tafsir ini bertindak sebagai jembatan. Di satu sisi, ia mempertahankan kemurnian ajaran Islam, namun di sisi lain, ia memberikan ruang bagi tradisi Bugis yang tidak bertentangan dengan syariat untuk tetap dipraktikkan. Ini menunjukkan bahwa Islam di Sulawesi Selatan bersifat akomodatif terhadap budaya setempat.
Metodologi Tafsir:
AG. H. Daud Ismail menggunakan pendekatan yang cenderung fanni (teknis) namun praktis, dengan tujuan dakwah agar masyarakat Bugis tetap memegang teguh identitas keislaman sekaligus kebangsaan mereka
Tidak tersedia versi lain